Tuesday, 30 October 2018

Gantang/Kerek Pleci Ditempat Yang Tinggi Semoga Cepat Gacor

Menggantang/mengerek Pleci di tiang kerekan atau pohon yang tinggi sudah banyak dilakuakan oleh para Pleci Mania dengan tujuan biar Pleci peliharaannya lebih cepat jadi.
Menggantang atau mengerek burung Pleci di ketinggian mempunyai dampak yang baik pada kondisi mental dan kesehatan Pleci alasannya yakni sanggup menghirup udara segar pagi hari dan menikmati suasana pagi dengan pemandangan yang luas menyerupai dihabitat aslinya, sehingga Pleci akan merasa nyaman, segar dan terbebas dari stress. Selain itu menggantang Pleci di ketinggian juga bermanfaat untuk meningkatkan power dan kualitas bunyi kicauannya.
Ada dua cara untuk menggantang Pleci di ketinggian, yaitu:
• Dengan menggantang kandang Pleci pada tiang kerekan menyerupai yang biasa dilakukan pada burung Perkutut.
• Dengan mnggantang kandang Pleci pada dahan pohon yang tinggi.
Jika cara ini rutin dilakukan secara konsisten maka dalam waktu yang tidak terlalu usang Pleci akan cepat jadi dan mempunyai performa yang maksimal, apalagi jikalau tujuan kita memelihara Pleci yakni untuk dilombakan.
Manfaat dari menggantang/mengerek Pleci ditempat yang tinggi:
Secara umum ada 3 manfaat yang sanggup didapatkan dari cara ini, antara lain:
• Agar Pleci cepat bersuara ngalas
Manfaaat pertama dari mengerek Pleci di ketinggian yaitu biar Pleci cepat ngalas dengan bunyi yang lantang.
Agar lebih efektif, selain dikerek ditempat tinggi, kita sanggup memancing Pleci biar rajin ngalas dengan memperdengarkan bunyi Pleci betina atau bunyi Pleci jantan lain, alasannya yakni intinya Pleci yakni jenis burung koloni yang akan berkicau sahut-sahutan saat berada dalam koloninya.
Dengan menerapkan cara-cara tersebut maka Pleci yang kita terapi akan rajin ngalas dengan bunyi yang lantang.
• Melatih mental Pleci
Ketika dikerek di ketinggian, Pleci akan lebih terperinci mendengar bunyi burung-burung lain, apalagi jikalau di lingkungan sekitar Pleci tersebut digantang masih banyak berkeliaran burung-burung liar, maka Pleci yang kita kerek akan membalas bunyi dari burung-burung lain tersebut dengan bunyi kicauan yang lantang alasannya yakni merasa menyerupai di alam bebas.
Dengan seringnya berkicau menyahuti bunyi burung lain, maka mental Pleci akan semakin terasah dan tidak takut lagi saat dilombakan.
• Agar Pleci fokus dalam berkicau
Suasana di atas ketinggian tentunya lebih hening alasannya yakni tidak ada gangguan dari lingkungan sekitar menyerupai kemudian lalang Manusia, kendaraan atau acara lainnya yang sanggup mengganggu kenyamanan Pleci. Karena jikalau banyak gangguan disekitarnya akan menciptakan Pleci tidak fokus dalam berkicau dan lebih banyak meloncat-loncat kesana kemari.
Dengan dikerek di ketinggian maka Pleci akan lebih hening dan nyaman sehingga lebih fokus pada kicauan terbaiknya alasannya yakni tidak merasa terganggu.
Suasana yang hening tersebut akan menciptakan Pleci lebih anteng dan nagen di plangkringan sambil berkicau sehingga akan menjadi kebiasaan jikalau dilakukan setiap hari.
Kebiasaan anteng sambil berkicau tersebut akan membentuk huruf anteng/nagen pada Pleci yang kita terapi kerek tersebut, sehingga saat dilombakan Pleci juga akan tampil nagen sambil berkicau dengan mengeluarkan bahan terbaiknya.
Baca juga:
Demikian sedikit gosip wacana "Gantang/kerek Pleci ditempat yang tinggi biar cepat gacor". Untuk gosip lain seputar burung Pleci, sanggup dibaca pada artikel yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Tiang kerekan untuk menggantang Pleci

Sunday, 10 June 2018

Ciri-ciri perbedaan Tledekan Gunung dan Tledekan Bakau

Tledekan Gunung/Sulingan Gunung adalah salah satu burung kicauan yang banyak digemari oleh para Kicau Mania dari dulu hingga sekarang. Untuk saat ini, Tledekan Gunung banyak dipelihara sebagai klangenan dirumah saja untuk menambah koleksi burung kicauannya, karena untuk sekarang ini lomba untuk kelas Tledekan Gunung memang sudah jarang digelar.
Dengan semakin banyaknya peminat Tledekan Gunung, maka harga burung fighter ini juga semakin naik, apalagi untuk Tledekan Gunung yang sudah jadi (gacor) harganya cukup mahal, bahkan lebih mahal dari Kacer yang sudah gacor.
Hal itu menjadi peluang bisnis bagi para pedagang burung untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mendatangkan stok bahan Tledekan Gunung muda hutan sebanyak-banyaknya karena sedang diminati konsumen.
Tapi sayangnya, peluang tersebut juga dimanfaatkan oleh para oknum pedagang nakal dengan menjual Tledekan Bakau yang dikatakan sebagai Tledekan Gunung. Hal itu dikarenakan sulitnya mencari pasokan Tledekan Gunung/Sulingan Gunung bakalan muda hutan karena populasinya di alam bebas memang sudah sangat langka, dan kalaupun ada harganya juga lebih mahal dibanding Tledekan Bakau dari Kalimantan.
Populasi Tledekan Gunung lokal di alam bebas memang sudah tinggal sedikit, bahkan sudah hampir punah, sehingga susah untuk mendapatkannya. Sedangkan populasi Tledekan Bakau dari Kalimantan masih cukup banyak dan bisa memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar.
Harga Tledekan Bakau yang lebih murah dari Tledekan Gunung lokal tentunya dapat mendatangkan keuntungan lebih besar bagi para pedagang jika dijual atau dikatakan sebagai Tledekan Gunung.
Jika dilihat secara fisik, memang antara Tledekan Gunung/Sulingan Gunung dan Tledekan Bakau/Sulingan Bakau memang tampak sangat mirip, dan bagi para Kicau Mania pemula yang belum berpengalaman tentunya akan sulit untuk membedakan keduanya.
Berikut ini beberapa ciri-ciri perbedaan Tledekan Gunung dan Tledekan Bakau yang bisa dijadikan sebagai panduan sebelum kita memutuskan untuk membelinya.
▪ Ciri-ciri Tledekan Gunung:
• Pada Tledekan Gunung jantan, bulu dibagian atas tubuhnya (punggung) berwarna biru tua. Sedangkan warna bulu dibagian sekitar mata, muka bagian depan, dan bercak pada dagu berwarna hitam.
• Dahi dan alisnya terlihat pendek dengan warna bulu biru muda/biru cerah. Sedangkan pada bagian tenggorokan, dada, dan sisi tubuhnya berwarna jingga serta bagian perut bawah berwarna keputih-putihan.
• Tledekan Gunung/Sulingan Gunung betina memiliki warna bulu yang sama sekali berbeda dari Tledekan Gunung/Sulingan Gunung jantan. Bulu tubuh bagian atas berwarna coklat dengan lingkar mata berwarna kuning, sedangkan warna bulu pada bagian bawah tubuhnya mirip dengan burung jantan, tapi warnanya lebih pucat/pudar.
• Tledekan Gunung/Sulingan Gunung dikenal memiliki mental yang bagus dan bisa lebih cepat gacor. Suara kicauannya juga sangat nyaring dengan banyak variasi isian. Selain itu, Tledekan Gunung/Sulingan Gunung juga lebih cepat ngeplong dan ngeroll dengan ciri khas nyekleknya, asalkan mendapatkan perawatan yang tepat.
▪ Ciri-ciri Tledekan Bakau:
Tledekan Bakau/Sulingan Bakau yang terkadang disebut juga sebagai Tledekan Gunung sebrang, sekilas memang sangat mirip dengan Tledekan Gunung/Sulingan Gunung lokal.
• Pada Tledekan Bakau jantan, perbedaannya terletak pada warna bulu dibagian dahi yang tidak biru muda, warna dagunya lebih hitam, serta warna bulu pada tubuh bagian bawahnya keseluruhan berwarna merah bata sampai ke bagian perut.
• Untuk Tledekan Bakau betina penampilan fisiknya sangat mirip dengan burung jantan, bahkan lebih mirip dengan Tledekan Gunung jantan. Untuk membedakan jenis kelamin Tledekan Bakau, kita bisa memperhatikan warna birunya. Tledekan Bakau betina warna birunya terlihat lebih pucat/pudar, dengan ciri khas pada paruh bagian atas terdapat bercak putih yang membentuk huruf V serta dagunya berwarna agak kekuningan.
• Tledekan Bakau, termasuk burung yang paling susah berkicau, kalaupun berkicau lebih banyak ngeriwik daripada ngeplongnya, tetapi jika burung ini sudah mapan dan keluar suaranya, maka Tledekan Bakau berpotensi menjadi sangat gacor.
Dengan perawatan yang tepat dan konsisten, Tledekan Bakau juga bisa berkicau dengan suara ngeplong dan juga ngeroll.
Baca juga:
Demikian informasi tentang "Ciri-ciri perbedaan Tledekan Gunung dan Tledekan Bakau". Untuk informasi lain seputar Tledekan Gunung, dapat dibaca pada artikel OKB yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Tledekan Gunung dan Tledekan Bakau

Kelebihan Murai Batu Balak

Anggapan banyak orang kalau Murai Batu (MB) Balak memiliki keistimewaan/kelebihan pada volume suaranya yang tembus melengking dengan lagu bervariasi mungkin tidak berlebihan, karena Murai Batu Balak merupakan perpaduan dari dua jenis Murai Batu terbaik di Indonesia. Perpaduan tersebut tentunya akan saling melengkapi antara kualitas Murai Batu ekor putih (White tail) dan kualitas Murai Batu ekor hitam (Black tail) yang dipadukan menjadi satu.
Sebelum kita membahas tentang Murai Batu (MB) Balak, terlebih dulu kita harus mengetahui dulu seperti apa struktur dan pola ekor Murai Batu (MB).
Struktur bulu ekor Murai Batu (MB) terdiri dari dua bagian, yaitu:
• Ekor penyangga
Bentuknya kecil-kecil dengan ukuran yang lebih pendek dari ekor lainnya dan letaknya dibagian bawah/samping yang berfungsi sebagai penyangga/penahan ekor utama.
• Ekor utama
Bentuknya lebih panjang, terletak dibagian atas/tengah yang menjadi mahkota dari seekor Murai Batu (MB).
Berdasarkan warna ekornya, Murai Batu (MB) di Indonesia digolongkan menjadi dua jenis yaitu:
1. Murai Batu (MB) ekor putih (White rumped shama).
2. Murai Batu (MB) ekor hitam (Black tail shama).
Murai Batu (MB) ekor putih (White tail), memiliki struktur ekor 4 pasang bulu ekor penyangga berwarna putih dan 2 pasang bulu ekor utama berwarna hitam, dan ada juga yang memiliki struktur ekor 3 pasang bulu ekor penyangga berwarna putih dan 3 helai bulu ekor utama yang berwarna hitam.
Murai Batu (MB) ekor hitam (Black tail), semua bulu ekornya berwarna hitam, baik bulu ekor penyangga maupun bulu ekor utama, dengan pola struktur 4 pasang bulu ekor penyangga dan 2 pasang bulu ekor utama. Dan ada juga yang memiliki pola struktur 3 pasang bulu ekor penyangga dan 3 pasang bulu ekor utama.
Selain dua jenis Murai Batu (MB) berdasarkan warna bulu ekornya tersebut, masih ada satu lagi jenis Murai Batu yang memiliki pola ekor dengan perpaduan warna antara ekor hitam dan ekor putih pada bagian bulu ekor penyangganya, atau yang biasa disebut Murai Batu Balak.
Murai Batu (MB) Balak dibedakan lagi menjadi beberapa macam menurut jumlah ekor balaknya, antara lain:
• Murai Batu (MB) Balak dua, jika terdapat 2 helai bulu ekor yang memiliki perpaduan warna hitam dan putih pada bulu ekor penyangganya.
• Murai Batu (MB) Balak empat, jika terdapat 4 helai bulu ekor dengan perpaduan warna hitam dan putih pada bulu ekor penyangganya.
• Murai Batu (MB) Balak enam, jika terdapat 6 helai bulu ekor dengan perpaduan warna hitam dan putih.
• Murai Batu (MB) Balak delapan jika terdapat 8 helai bulu ekor dengan perpaduan warna hitam dan putih.
Menurut isu yang berkembang dikalangan penghobi Murai Batu (MB), bahwa Murai Batu Balak adalah jenis Murai Batu langka yang punya keistimewaan/kelebihan pada vokalnya yang tembus melengking dengan variasi lagu yang melimpah.
Menurut pendapat dari para pakar Murai Batu (MB), bahwa terjadinya fenomena Murai Batu Balak merupakan hasil dari kawin silang alami antara Murai Batu ekor putih (White tile) dengan Murai Batu ekor hitam (Black tile), Karena kemungkinan adanya migrasi/perpindahan tempat tinggal yang terjadi dihabitat dari masing-masing kedua jenis Murai Batu tersebut.
Misalnya Murai Batu (MB) Nias raja yang memiliki ekor balak alami dan bukan merupakan hasil kawin silang yang dihasilkan dari penangkaran. Murai Batu ini berasal dari Pulau Nias yang memiliki ekor balak/ada noktah putih pada bagian ujung dari ekor penyangganya, padahal Pulau Nias merupakan pusat habitat dari Murai Batu ekor hitam.
Kemungkinan hal itu terjadi karena adanya migrasi dari Murai Batu (MB) ekor putih ke wilayah Pulau Nias yang merupakan habitat Murai Batu ekor hitam dan terjadi perkawinan antara kedua jenis Murai Batu tersebut yang menghasilkan keturunan dengan pola ekor penyangganya memiliki perpaduan warna hitam dan putih yang biasa disebut Murai Batu Nias raja.
Sebaliknya Murai Batu (MB) ekor hitam juga bisa ditemukan di beberapa wilayah di Aceh yang sebagain besar wilayahnya merupakan habitat dari Murai Batu ekor putih, namun juga banyak ditemukan Murai Batu asal Aceh yang memiliki pola ekor balak.
Jadi kesimpulannya, Murai Batu (MB) Balak adalah keturunan dari hasil kawin silang antara Murai Batu ekor putih dengan Murai Batu ekor hitam, baik yang terjadi secara alami dihabitat aslinya, maupun yang dhasilkan dari penangkaran dengan campur tangan Manusia (peternak).
Baca juga:
Demikian informasi tentang "Kelebihan Murai Batu Balak". Untuk informasi lain seputar Murai Batu (MB), dapat dibaca pada artikel OKB yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Murai Batu (MB) Balak

Mengenal ciri-ciri dan kelebihan Murai Batu Lampung

Murai Batu (MB) Lampung memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan Murai Batu asal Sumatera lainnya. Hanya saja, ukuran ekor Murai Batu Lampung cenderung lebih pendek dari Murai Batu Medan atau Murai Batu Aceh, walaupun ada juga Murai Batu Lampung yang memiliki ekor cukup panjang yang biasa disebut dengan istilah Murai Batu Lampung super.
Tapi berbeda dengan ekor Murai Batu (MB) Medan yang bentuknya melengkung pada ujungnya, ekor Murai Batu Lampung bentuknya lurus dari pangkal sampai ujung ekornya dan tidak mekar.
Ukuran ekor Murai Batu (MB) Lampung yang pendek tersebut justru memberikan keuntungan tersendiri karena membuat Murai Batu Lampung dapat bergerak lebih atraktif ketika sedang bertarung dan tidak membuatnya cepat lelah karena tidak terbebani oleh ekornya.
Namun ada dua pendapat tentang ukuran ekor Murai Batu (MB) Lampung yang pendek tersebut. Ada yang berpendapat kalau ukuran ekor yang lebih pendek tersebut adalah keuntungan dari Murai Batu Lampung karena akan mengurangi bebannya saat memainkan ekornya, sehingga staminanya tidak cepat terkuras, dan ada juga yang berpendapat kalau ekor yang pendek tersebut adalah kekurangan dari Murai Batu Lampung karena jika dilihat secara fisik penampilannya menjadi kurang menarik.
Murai Batu (MB) asal Sumatera memang ada beberapa jenis sesuai asal daerahnya, seperti dari Lampung, Jambi, Aceh dan dari daerah lainnya. Untuk pola ekor, masing-masing Murai Batu Sumatera rata-rata memiliki motif yang hampir sama, yaitu seluruh ekor putih bagian dalam memiliki corak hitam yang tegas dan tembus sampai batang lidinya.
Jenis pola ekornya sendiri cukup beragam, ada yang berbentuk sudut lekukan dan ada juga yang motifnya tidak beraturan, dan biasanya disebut dengan pola U, V, W dan lainnya.
Murai Batu (MB) Lampung memiliki stamina yang tangguh dan juga mental yang bagus ketika bertarung jika dirawat dan dilatih dengan tepat tentunya. Tapi Murai Batu Lampung memiliki kelemahan pada variasi lagunya yang cenderung mengulang-ulang nada yang sama/kurang variatif.
Tapi kekurangan tersebut bisa diatasi dengan pemasteran yang tepat dan konsisten tentunya, sehingga Murai Batu (MB) Lampung juga bisa memiliki materi lagu yang lebih bervariasi.
Keunggulan yang menonjol dari Murai Batu (MB) Lampung adalah pada staminanya yang tangguh ketika bertarung dan tidak cepat lelah walaupun terus berkicau dalam waktu yang lama. Tapi untuk gaya tarungnya memang tidak seindah Murai Batu ekor panjang yang dapat mencambuk-cambukkan ekornya. 
Ciri-ciri fisik Murai Batu (MB) Lampung:
Murai Batu (MB) Lampung memiliki postur tubuh yang sedikit lebih besar dari Murai Batu Medan atau Murai Batu Aceh, tapi perbedaan dari segi fisik yang paling mudah dikenali adalah pada bagian ekornya yang pendek dan lurus. Kalau dari bentuk fisik lainnya secara keseluruhan memang agak sulit untuk membedakan Murai Batu Lampung dengan Murai Batu lainnya karena memang hampir sama.
Ciri lainnya dari Murai Batu (MB) Lampung adalah pada gaya tarungnya yang menaik turunkan kepalanya seperti mencangkul mirip dengan gaya tarung Murai Batu Borneo, hanya saja Murai Batu Lampung yang asli tidak menggembungkan bulu dadanya ketika bertarung.
Kelebihan Murai Batu (MB) Lampung:
Selain memiliki stamina yang tangguh, Murai Batu (MB) Lampung sebetulnya juga memiliki suara kicauan yang tidak kalah bagus dengan jenis Murai Batu asal Sumatera lainnya, asalkan rutin dilakukan pemasteran maka variasi lagunya juga dapat bersaing dengan Murai Batu jenis lainnya.
Kekurangan Murai Batu (MB) Lampung:
Selain materi lagunya yang cenderung monoton, ada satu hal lagi yang membuat Murai Batu (MB) Lampung kurang disukai para penggemar Murai Batu, yaitu Mental fighternya yang lemah, karena jika bertemu lawan yang lebih dominan, maka Murai Batu Lampung akan langsung down mentalnya.
Jadi, untuk mengikut sertakan Murai Batu (MB) Lampung ke arena lomba, maka burung harus sudah benar-benar matang secara mental, dan minimal sudah terbiasa mengikuti Latber.
Baca juga:
Demikian informasi tentang "Mengenal ciri-ciri dan kelebihan Murai Batu Lampung". Untuk informasi lain seputar Murai Batu (MB), dapat dibaca pada artikel OKB yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Murai Batu (MB) Lampung

Murai Batu Lampung super vs Murai Batu Lampung semi

Untuk sekarang ini, Murai Batu (MB) asli Lampung sudah sangat sulit ditemukan karena populasinya di alam bebas sudah sangat langka bahkan bisa dikatakan nyaris punah.
Tapi jika kita lihat dipasar-pasar burung di Indonesia, mudah sekali kita temui Murai Batu (MB) yang dikatakan sebagai Murai Batu Lampung, Lampung super dan Lampung semi.
Murai Batu (MB) Lampung dan Lampung super adalah dua jenis Murai Batu dari habitat yang sama di Pulau Sumatera. Istilah Murai Batu Lampung dan Lampung super tersebut adalah penyebutan dari para pedagang untuk membedakan antara Murai Batu Lampung ekor pendek dan Murai Batu Lampung ekor panjang, sekaligus untuk membedakan harga jualnya.
Harga jual Murai Batu (MB) Lampung ekor panjang/Lampung super memang lebih tinggi dari Murai Batu Lampung biasa/ekor pendek, alasannya karena para penggemar lebih menyukai Murai Batu yang memiliki ekor panjang menjuntai.
Murai Batu (MB) Lampung dan Lampung super memiliki spesifikasi yang sama, dari segi suara, mental, maupun gaya tarungnya, karena keduanya memang berasal dari jenis dan habitat yang sama. Yang membedakan dari keduanya hanya pada ukuran ekornya saja.
Murai Batu (MB) Lampung memiliki postur tubuh yang sedikit lebih besar dari Murai Batu Medan atau Murai Batu Aceh, tapi perbedaan dari segi fisik yang paling mudah dikenali adalah pada bagian ekornya yang lebih pendek dan cenderung lurus dari pangkal sampai ujungnya.
Kalau dilihat dari bentuk fisik lainnya secara keseluruhan memang agak sulit untuk membedakan Murai Batu (MB) Lampung dengan Murai Batu asal Sumatera lainnya karena memang hampir serupa.
Ciri lainnya dari Murai Batu (MB) Lampung adalah pada gaya tarungnya yang menaik turunkan kepalanya seperti mencangkul mirip dengan gaya tarung Murai Batu Borneo/Kalimantan, hanya saja Murai Batu Lampung yang asli tidak menggembungkan bulu dadanya ketika bertarung.
Sedangkan Murai Batu (MB) Lampung semi, sebetulnya bukanlah Murai Batu yang berasal dari Lampung (Sumateta), melainkan dari Kalimantan atau lebih tepatnya Murai Batu Palangka yang memiliki ukuran ekor cukup panjang.
Ketika berkicau sendiri tanpa lawan, Murai Batu (MB) Palangka tidak akan menggembungkan bulu dadanya, tapi pada saat di track/di adu, baru kelihatan kalau Murai Batu yang disebut juga sebagai Murai Batu Lampung semi tersebut akan mengembangkan bulu-bulu dadanya (gembung).
Secara fisik, Murai Batu (MB) Palangka memang identik dengan Murai Batu (MB) Lampung, hal itulah yang dimanfaatkan oleh para oknum pedagang nakal untuk mencari keuntungan dari ketidak tahuan para penghobi pemula.
Hal itu dikarenakan Murai Batu (MB) asal Kalimantan memang kurang diminati, maka oleh para oknum pedagang nakal diberi label sebagai Murai Batu Lampung semi untuk menarik minat pembeli sekaligus menaikkan harga jualnya.
Jika diperhatikan dari fisiknya, Murai Batu (MB) Palangka memiliki beberapa ciri yang berbeda, baik gradasi warna bulu, warna kaki dan ukuran ekornya.
Ciri-ciri Murai Batu (MB) Palangka/Lampung semi:
• Postur tubuh sedang dengan bentuk agak memanjang.
• Panjang ekor antara 15-18 cm.
• Warna bulu dada coklat hingga coklat tua.
• Warna kaki ada yang hitam pekat, coklat kehitaman (warna tanduk), coklat kemerahan, dan putih kekuningan.
Gaya tarung Murai Batu (MB) Palangka sama seperti typical Murai Batu Kalimantan/Borneo lainnya. Murai Batu Palangka juga akan mengembangkan bulu dadanya pada saat tarung, tapi tidak seperti Murai Batu Borneo lainnya, Murai Batu Palangka hanya mengembangkan bulu bagian perut dan sedikit dibagian dadanya (semi gembung).
Hal itulah yang dimanfaatkan oleh para oknum pedagang nakal untuk menarik minat pembeli sekaligus menaikkan harga jual Murai Batu Palangka tersebut dengan menyebutnya sebagai Murai Batu (MB) Lampung semi.
Murai Batu (MB) Lampung jelas berasal dari Pulau  Sumatera, dan typical Murai Batu asal Sumatera tidak ada yang mengembangkan bulu-bulu dadanya pada saat tarung/berkicau (tidak gembung), berbeda dengan Murai Batu dari Kalimantan/Borneo yang memiliki ciri khas mengembangkan bulu-bulu badannya (gembung) pada saat tarung, termasuk Murai Batu Palangka/Kalimantan super yang sering disebut juga sebagai Murai Batu Lampung semi.
Jadi, Murai Batu (MB) Lampung semi sebetulnya bukanlah Murai Batu yang berasal dari Lampung (Sumatera), melainkan dari Kalimantan/Borneo yang diberi label oleh para oknum pedagang nakal sebagai Murai Batu Lampung semi untuk menarik minat pembeli dan menaikkan harga jualnya.
Jika dilihat dari penampilannya, antara Murai Batu (MB) Lampung dengan Murai Batu (MB) Lampung semi, memang hampir tidak ada bedanya. Yang membedakan keduanya hanya pada gaya tarung dan pola ekornya saja.
Baca juga:
Demikian informasi tentang "Murai Batu Lampung super vs Murai Batu Lampung semi". Untuk informasi lain seputar Murai Batu (MB), dapat dibaca pada artikel OKB yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
MB Lampung dan MB Palangka/Lampung semi

Cara menghilangkan kebiasaan salto pada Kacer

Salto merupakan salah satu perilaku negatif Kacer yang sangat tidak disukai oleh para Kacer Mania, baik yang hanya memelihara Kacer untuk rumahan ataupun yang tujuananya untuk dilombakan.
Untuk Kacer rumahan sebetulnya perilaku salto tersebut tidak terlalu masalah, karena tujuannya hanya untuk didengarkan suaranya saja. Tapi pada kenyataannya, Kacer rumahan juga kurang diminati kalau memiliki kebiasaan salto, karena kebiasaan salto tersebut ternyata akan mengurangi nilai jualnya ketika akan dijual.
Sedangkan untuk Kacer lapangan, perilaku salto memang menjadi masalah yang sangat serius karena akan mempengaruhi penilaian juri ketika Kacer tersebut dilombakan. Sebab selain tidak enak dilihat, salto juga akan membuat Kacer menjadi cepat lelah dan cenderung ngetem saat dilombakan dan tentunya akan sangat mempengaruhi penilaian dari para juri.
Untuk menangani kebiasaan salto pada Kacer dengan tepat, maka kita harus mengetahui terlebih dulu apa yang menjadi faktor pemicu yang menyebabkan Kacer tersebut salto dengan cara memantau perilakunya pada saat apa atau pada saat kenapa Kacer tersebut melakukan salto serta mengevaluasi perawatan harian yang kita lakukan selama ini secara detail.
Secara umum kebiasaan salto pada Kacer dapat di atasi dengan beberapa cara, tentunya cara atau threatment yang kita lakukan harus disesuaikan dengan faktor pemicu timbulnya perilaku salto pada Kacer tersebut.
Berikut ini adalah beberapa penyebab Kacer salto dan cara mengatasinya:
1. Kacer salto karena meniru burung lain
Jika Kacer salto disebabkan karena meniru perilaku salto dari burung lain disekitarnya, maka penangananya adalah dengan cara segera menjauhkan atau menghindarkan Kacer tersebut dari burung-burung lain disekitarnya yang memiliki kebiasaan salto, seperti misalnya: Cendet/Pentet, Pleci, Gelatik, Sirtu, Ciblek dan burung-burung lainnya yang suka melakukan gerakan salto agar tidak menjadi kebiasaan pada Kacer. Sebab kalau terus-menerus dibiarkan maka perilaku salto tersebut akan menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan.
Kalau burung-burung yang memiliki kebiasaan salto tersebut adalah burung-burung yang kita jadikan sebagai burung masteran untuk Kacer, maka sebaiknya penempatannya harus di atur agar Kacer tidak dapat melihat burung-burung yang suka salto tersebut. Kondisikan agar Kacer tidak melihat burung-burung tersebut tapi tetap bisa mendengar suaranya dengan intonasi yang jelas. Caranya bisa dibatasi menggunakan sekat atau bisa juga dikerodong.
2. Kacer salto karena tidak nyaman dengan kandangnya
Jika perilaku salto pada Kacer disebabkan karena burung merasa tidak nyaman dengan kandangnya, maka yang harus di atur adalah mengkondisikan kandang dan perlengkapannya agar Kacer merasa nyaman dengan suasana kandangnya. Karena kalau terus dibiarkan, maka perilaku salto tersebut akan menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.
Tapi kalau perilaku salto tersebut sudah terlanjur menjadi kebiasaan, maka solusinya adalah dengan melakukan beberapa threatment berikut:
• Merubah posisi plangkringan/tenggeran menjadi bersilang atau menjadi sejajar disesuaikan dengan kondisi. Bisa juga dengan meninggikan posisi tangkringan atas untuk mempersempit ruang gerak Kacer untuk salto.
• Mengganti kandang hariannya dengan kandang bulat yang biasa digunakan untuk Murai Batu (MB) atau mengganti kandangnya dengan ukuran yang lebih besar agar Kacer dapat bergerak lebih leluasa.
• Menutup bagian atas kandang pada bagian dalamnya dengan menggunakan mika atau kardus yang permukaanya licin agar Kacer tidak dapat mencengkeram jeruji bagian atas kandang untuk melakukan salto.
• Memasang beberapa tali karet pada bagian atas kandang sebagai jebakan agar Kacer tidak berani melompat ke atas untuk melakukan gerakan salto.
3. Kacer salto karena merasa tertekan/terancam
Jika Kacer melakukan gerakan salto karena merasa tidak nyaman dengan lingkungannya karena merasa terancam atau tertekan, maka yang harus kita lakukan adalah menjauhkan hal-hal yang menyebabkan Kacer tersebut merasa tidak nyaman sehingga melampiaskannya dengan cara salto.
Kondisi tidak nyaman tersebut bisa disebabkan karena adanya predator seperti kucing atau tikus dan juga karena adanya burung-burung fighter lain disekitar kandangnya seperti Murai Batu (MB), Cendet/Petet atau Kacer lain yang menyebabkan Kacer tersebut merasa tertekan dan gelisah.
Karena terbatasnya ruang gerak untuk melarikan diri, atau untuk melampiaskan emosinya karena terhalang jeruji sangkar, mengakibatkan Kacer tersebut melampiaskannya dengan cara salto sebagai ungkapan dari perasaan frustasinya.
Jika hal ini terus dibiarkan maka akan menyebabkan perilaku salto tersebut menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan dan juga akan mengakibatkan mental Kacer tersebut menjadi rusak karena merasa tertekan setiap harinya.
Solusinya tentu harus menjauhkan Kacer tersebut dari hal-hal yang membuatnya tertekan tersebut dan mengkondisikan lingkungan disekitar kandangnya menjadi senyaman mungkin untuk Kacer.
4. Kacer salto karena salah perawatan
Jika perilaku salto pada Kacer disebabkan karena kurang tepatnya perawatan harian yang kita lakukan, maka solusinya adalah dengan cara mengevaluasi kembali perawatan yang kita lakukan selama ini.
• Kenali karakter Kacer momongan kita, karena dengan mengenali karakternya, apakah Kacer tersebut memiliki karakter fighter tinggi atau memiliki karakter fighter rendah maka kita bisa menentukan perawatan yang tepat untuk Kacer momongan kita agar tidak salah perawatan.
Perawatan mandi dan jemur yang tidak tepat juga bisa memicu timbulnya perilaku salto pada Kacer. Misalnya, Kacer tipe fighter tinggi yang dijemur terlalu lama, biasanya akan melakukan salto kalau sudah tidak kuat lagi menahan panas karena suhu tubuhnya sudah melampaui ambang batas normal. Akibatnya Kacer melakukan salto karena terbatasnya ruang gerak untuk bisa berteduh dari sengatan panas matahari. Itulah pentingnya untuk mengenal karakter Kacer momongan kita terlebih dulu sebelum menentukan perawatan hariannya.
• Jika ada indikasi Kacer tersebut Over Birahi (OB) maka penanganannya adalah dengan mengurangi porsi Ekstra fooding (EF) untuk settingan hariannya, terutama untuk pemberian kroto dan ulat hongkong (UH), karena kedua jenis Ekstra fooding (EF) tersebut sangat berpotensi manaikkan birahi Kacer jika porsi pemberiannya tidak tepat atau berlebihan.
• Umbar seminggu 2-3 kali agar Kacer bisa lebih leluasa bergerak. Pengumbaran sangat bermanfaat untuk melatih stamina Kacer dan juga untuk mengurangi tingkat birahi Kacer yang berlebihan. Manfaat lain dari pengumbaran adalah sebagai sarana refreshing agar Kacer tidak stres karena sudah terlalu lama berada dikandang harian yang sempit.
Terapi kandang umbaran juga cukup efektif untuk menghilangkan perilaku salto pada Kacer. Caranya dengan mempatkan Kacer selama satu bulan full dikandang umbaran dan melakukan semua aktifitas hariannya dikandang umbran tersebut agar Kacer lupa pada suasana kandang hariannya dan juga lupa pada kebiasaannya melakukan salto.
Tapi pada saat melakukan terapi dikandang umbaran, tetap lakukan interaksi setiap hari dengan Kacer agar nantinya tidak menjadi terlalu giras.
Baca juga:
Demikian informasi tentang "Cara menghilangkan kebiasaan salto pada Kacer". Untuk informasi lain seputar Kacer, dapat dibaca pada artikel OKB yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Kacer Poci

Tips perawatan Jalak Putih/Jalak Pito agar cepat gacor

Jalak Putih/Jalak Pito adalah salah satu burung yang mejadi favorit para penghobi burung di tanah air. Jalak Putih/Jalak Pito termasuk jenis burung hias karena warna bulu dan bentuk fisiknya yang indah. Tapi burung ini juga termasuk jenis burung kicauan karena suaranya juga bagus dan bisa menirukan suara dari burung-burung lain serta suara-suara lain yang sering didengarnya, sama seperti halnya Jalak Suren Jawa/Jalak Suren Lokal yang merupakan burung isian.
Tapi jika dibandingkan dengan Jalak Suren Jawa (Lokal), Jalak Putih/Jalak Pito memiliki kelebihan pada bentuk fisiknya yang indah serta gaya berkicaunya yang lebih atraktif. Maka tidak heran jika harga Jalak Putih/Jalak Pito lebih mahal dari Jalak Suren Jawa (Lokal).
Jalak Putih/Jalak Pito termasuk burung yang cerewet, sama seperti kebanyakan burung jenis Jalak lainnya, jika dirawat dengan baik pasti akan gacor sepanjang hari.
Perawatan harian Jalak Putih/Jalak Pito agar cepat gacor:
• Sebaiknya pilih Jalak Putih/Jalak Pito yang berjenis kelamin jantan karena suara kicauannya lebih bagus dan lebih bervariasi. Walaupun Jalak Putih/Jalak Pito betina juga bisa gacor, tapi suara kicauannya cenderung lebih tipis dan monoton.
• Embunkan Jalak Putih/Jalak Pito setiap pagi agar burung menghirup udara segar dan menikmati suasana pagi hari yang menjadi waktu favorit bagi burung-burung liar untuk berkicau.
• Jika cuaca cerah, mandikan Jalak Putih/Jalak Pito setiap hari sekitar jam 07.00 atau 08.00 pagi dengan menggunakan sprayer atau mandikan dibak keramba sesuai kebiasaan. Campurkan shampo khusus untuk burung sesuai takaran pada kemasannya kedalam air sprayer agar bulunya tetap lembut, halus dan cerah serta untuk mencegah sekaligus membasmi kutu dan kuman pada bulu Jalak Putih/Jalak Pito.
• Sambil menunggu Jalak Putih mandi, kandangnya dibersihkan dari semua kotoran dan siapkan pakannya berupa voer dan buah-buahan seperti pepaya atau pisang. Sebelum diberikan, terlebih dulu permukaan pisang atau pepaya di olesi dengan madu murni untuk melengkapi kebutuhan nutrisi Jalak Putih/Jalak Pito. Ganti air minumnya dengan yang baru setiap hari karena Jalak Putih sangat suka bermain air didalam cepuk.
• Setelah selesai dimandikan, burung di angin-anginkan terlebih dulu untuk mengeringkan bulu-bulunya. Berikan jangkrik sebanyak 5 ekor dan ulat hongkong (UH) 10 ekor sebagai Ekstra fooding (EF) hariannya.
• Setelah semua bulu-bulunya kering, kemudian lakukan penjemuran selama kurang lebih satu jam kalau kondisi cuaca sangat terik, tapi kalau kondisi cuaca tidak begitu terik, penjemuran bisa dilakukan lebih dari satu jam.
• Setelah selesai dijemur, kemudian burung digantang ditempat yang teduh dan berikan kroto segar sebanyak 1 cepuk. Kroto bisa diberikan 2-3 kali seminggu untuk menaikkan birahinya sehingga burung menjadi lebih rajin bunyi.
• Berikan vitamin khusus untuk burung kicau yang diteteskan pada air minumnya seminggu sekali untuk menjaga kondisi Jalak Putih agar selalu fit dan rajin berkicau.
• Lakukan pemasteran untuk menambah variasi suara Jalak Putih/Jalak Pito. Pemasteran bisa menggunakan burung-burung masteran dan bisa juga dengan menggunakan suara Mp3.
Tapi agar lebih efektif, pemasteran sebaiknya dengan menggunakan burung-burung masteran dengan cara menggantang Jalak Putih/Jalak Pito bersama dengan burung-burung masteran yang kita sukai setiap harinya.
• Pada sore hari kandangnya kembali dibersihkan, karena Jalak Putih/Jalak Pito nafsu makannya cukup rakus sama seperti jenis Jalak lainnya sehingga kotorannya juga cukup banyak dan cepat menumpuk didasar kandang. Setelah kandangnya dibersihkan, berikan jangkrik 5 ekor dan juga ulat hongkong (UH) sebanyak 10 ekor, kemudian burung di angin-anginkan dulu sebentar lalu dikerodong untuk istirahat.
Agar Jalak Putih/Jalak Pito cepat gacor, burung harus dibuat nyaman dengan lingkungan dan juga kandangnya. Sebaiknya Jalak Putih/Jalak Putih ditempatkan dikandang yang berukuran agak besar agar burung merasa nyaman an bisa lebih leluasa bergerak.
Baca juga:
Demikian informasi tentang "Tips perawatan Jalak Putih/Jalak Pito agar cepat gacor". Untuk informasi lain seputar burung Jalak, dapat dibaca pada artikel OKB yang lain.
Semoga bermanfaat
Terima kasih
Jalak Putih/Jalak Pito

Infoburungindo Cara Melatih Jalak Kebo Mata Putih Biar Dapat Bicara

Burung Jalak Kebo/Jalak Penyu yaitu salah satu jenis burung kicau yang cepat gacor dan sangat cerewet, bahkan bila telaten melatihnya burung...